Kanker ovarium memiliki angka kematian tertinggi di antara kanker ginekologi, terutama berupa kanker ovarium epitelial. Karena kurangnya gejala awal, lebih dari separuh pasien terdiagnosis pada stadium lanjut. Strategi standar berupa operasi, kemoterapi, dan terapi pemeliharaan secara bermakna memperbaiki prognosis.
· Mutasi genetik seperti BRCA1/2 (risiko dapat mencapai 40%–60%)
· Menarke dini dan menopause terlambat
· Tidak pernah melahirkan atau melahirkan pada usia lanjut
· Obesitas
· Endometriosis
· Merokok
Ovulasi menyebabkan kerusakan berulang pada permukaan ovarium, dan pada latar mutasi gen perbaikan seperti BRCA, kelainan DNA menumpuk. Lingkungan estrogen dan peradangan pelvis bekerja bersama mendorong karsinogenesis. Obesitas memperberat keadaan inflamasi kronis.
Pada tahap awal dapat muncul kembung, lingkar perut membesar, cepat kenyang, dan rasa tidak nyaman di perut. Setelah berkembang, dapat timbul nyeri perut, sering dan mendesak berkemih, gangguan pencernaan, serta kelelahan. Pada stadium lanjut, asites masif dapat menyebabkan sesak napas, dan pemeriksaan ginekologi dapat menemukan massa adneksa.
· Operasi: Sitoreduksi tumor berupaya mencapai tidak adanya sisa tumor yang terlihat secara kasatmata dan merupakan dasar terapi. Sebagian pasien menjalani sitoreduksi setelah kemoterapi neoadjuvan.
· Terapi minimal invasif: Untuk lesi rekuren soliter atau oligometastasis, ablasi frekuensi radio atau gelombang mikro dengan panduan pencitraan dapat dipertimbangkan untuk kontrol lokal; implantasi partikel radioaktif juga dapat digunakan sebagai terapi lokal.
· Radiokemoterapi: Kemoterapi pascaoperasi berbasis platinum adalah standar; kemoterapi intraperitoneal hipertermik dapat digunakan pada pasien yang sesuai.
· Terapi target dan imunoterapi: Pada mutasi BRCA atau HRD positif, inhibitor PARP digunakan sebagai terapi pemeliharaan; terapi target antiangiogenesis yang dikombinasikan dengan kemoterapi dapat meningkatkan efek.
· Lainnya: Konseling genetik dan pemeriksaan BRCA membantu pencegahan kanker pada anggota keluarga; terapi suportif meningkatkan kualitas hidup.
Ultrasonografi pelvis menjadi pilihan awal, dengan CA-125 serum yang dikombinasikan dengan HE4 sebagai bantuan diagnosis. CT kontras digunakan untuk penentuan stadium. Setelah operasi, patologi menentukan subtipe. Pemeriksaan BRCA dan HRD memandu terapi pemeliharaan.