Kanker esofagus bermula dari epitel mukosa esofagus. Di wilayah Asia, penyakit ini didominasi oleh karsinoma sel skuamosa, dengan angka insidens dan mortalitas yang tinggi. Gejala pada stadium dini tidak tampak jelas, sehingga mayoritas pasien baru terdiagnosis saat telah memasuki stadium menengah hingga lanjut. Berkat skrining endoskopi dini dan terapi komprehensif, angka kelangsungan hidup selama 5 tahun pada pasien stadium dini dapat mencapai lebih dari 80%.
· Merokok jangka panjang dan konsumsi alkohol berlebih
· Kebiasaan mengonsumsi makanan terlalu panas, kasar serta makanan yang diasinkan
· Defisiensi vitamin dan mikronutrien
· Penyakit esofagus kronis (akalasia esofagus kardia, refluks gastroesofageal)
· Obesitas serta faktor keturunan genetik
Metabolit tembakau dan alkohol dapat merusak DNA mukosa esofagus secara langsung. Akumulasi karsinogen seperti nitrosamin memicu mutasi pada gen supresor tumor contohnya TP53. Inflamasi kronis yang berkepanjangan menyebabkan displasia epitel, yang pada akhirnya bertransformasi menjadi sel ganas.
Pada stadium dini, pasien hanya merasakan ketidaknyamanan di area retrosternal. Manifestasi klinis yang khas berupa disfagia progresif: awalnya sulit menelan makanan padat, kemudian bahkan cairan pun sulit ditelan. Penyakit ini juga disertai refluks asam, nyeri dada dan penurunan berat badan. Pada stadium lanjut, timbul gejala suara serak, batuk tersedak serta pembesaran kelenjar getah bening servikal.
Operasi: Diseksi submukosa endoskopik (ESD) dapat dilakukan pada kanker esofagus stadium dini guna mempertahankan organ. Pada kasus stadium menengah hingga lanjut yang dapat direseksi, dilakukan esofagektomi radikal, dan pemberian kemoradiasi perioperatif mampu meningkatkan efektivitas terapi.
Terapi minimal invasif: Lesi dini dapat dieksisi secara utuh dengan mukosektomi endoskopik. Untuk obstruksi akibat kanker stadium lanjut, pemasangan stent logam yang dapat mengembang sendiri secara endoskopik berfungsi meredakan disfagia. Ablasi laser maupun terapi fotodinamik dapat diterapkan untuk reduksi tumor paliatif.
Kemoradiasi: Kemoradiasi simultan menjadi terapi standar bagi kanker stadium lanjut lokal dan lesi yang tidak dapat direseksi. Terapi ini juga digunakan sebagai terapi neoadjuvan preoperatif dan terapi adjuvan pascaoperatif.
Terapi target dan imunoterapi: Terapi target diberikan kepada pasien dengan status HER2-positif. Inhibitor titik pemeriksaan imun digunakan sebagai terapi lini pertama maupun terapi lanjut pada stadium lanjut, yang mampu memperpanjang kelangsungan hidup pasien secara signifikan.
Lainnya: Dukungan nutrisi, intervensi psikologis serta manajemen nyeri diberikan sepanjang masa perawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Endoskopi saluran cerna atas disertai biopsi merupakan standar emas penegakan diagnosis. Endosonografi berfungsi menilai kedalaman invasi tumor. CT dan MRI digunakan untuk penentuan stadium penyakit. Populasi berisiko tinggi disarankan menjalani skrining endoskopi mendalam secara rutin.