Kanker lambung merupakan tumor ganas tersering ke-5 di dunia, dengan adenokarsinoma menyumbang lebih dari 95%. Kawasan Asia Timur merupakan wilayah dengan insidens tinggi, infeksi Helicobacter pylori merupakan faktor inti yang mendasari progresi lesi prakanker. Karena gejala dini sama sekali tidak spesifik, lebih dari 80% kanker lambung di kawasan Asia didiagnosis pada stadium lanjut, dengan angka kelangsungan hidup 5 tahun secara keseluruhan sekitar 35%. Namun, bila dapat ditemukan dan dieksisi melalui endoskopi pada stadium dini, angka kelangsungan hidup 5 tahun dapat melonjak hingga lebih dari 90%. Eradikasi Helicobacter pylori dan promosi pemeriksaan endoskopi presisi merupakan upaya paling efektif untuk menurunkan beban kanker lambung.
· Infeksi persisten Helicobacter pylori (risiko atribut sekitar 60%–80%)
· Pola makan tinggi garam, makanan awetan dan asapan, asupan sayur dan buah segar yang kurang
· Merokok dan konsumsi alkohol berat
· Gastritis atrofik kronis, metaplasia intestinal dan displasia mukosa lambung
· Anemia pernisiosa, infeksi virus Epstein-Barr (EBV)
· Kanker lambung difus herediter (mutasi gen CDH1) dan riwayat keluarga
Kaskade Correa yang klasik menjelaskan patogenesis kanker lambung tipe intestinal: infeksi Helicobacter pylori memicu gastritis kronis superfisialis, berlanjut ke tahap gastritis atrofik, metaplasia intestinal, displasia, dan akhirnya berkembang menjadi adenokarsinoma. Dalam prosesnya, merokok, konsumsi garam berlebih, dan senyawa N-nitroso memperberat kerusakan DNA dan perubahan epigenetik. Kanker lambung tipe difus sebagian besar berkaitan dengan inaktivasi gen CDH1 yang menyebabkan gangguan ikatan antarsel, dan cenderung menunjukkan pertumbuhan infiltratif.
Kanker lambung stadium dini dapat hanya menampakkan gejala dispepsia seperti nyeri tumpul epigastrium, rasa penuh, sendawa, dan refluks asam, yang sangat mudah diabaikan. Stadium lanjut menimbulkan nyeri epigastrium menetap tanpa korelasi jelas dengan makan, anoreksia, penurunan berat badan drastis, melena, atau hematemesis. Kanker kardia dapat menyebabkan ketidaknyamanan retrosternal atau disfagia, sedangkan kanker pilorus menimbulkan muntah makanan yang telah dicerna. Stadium akhir dapat menunjukkan asites, pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula kiri, anemia, dan kegagalan sistemik.
· Operasi: Kanker intramukosa stadium dini dapat ditangani dengan diseksi submukosa endoskopik (ESD) untuk mempertahankan fungsi lambung. Kanker lambung stadium lanjut yang dapat direseksi dilakukan dengan gastrektomi radikal secara laparoskopik atau terbuka, disertai diseksi kelenjar getah bening stasiun D2. Kemoterapi perioperatif atau kemoterapi adjuvan pascaoperasi sesuai stadium penyakit dapat lebih meningkatkan angka kesembuhan radikal.
· Terapi minimal invasif: Diseksi submukosa endoskopik (ESD) dan mukosektomi endoskopik(EMR) merupakan modalitas kuratif minimal invasif untuk kanker lambung stadium dini. Pada stadium lanjut dengan obstruksi pilorus atau kardia, pemasangan stent yang dapat mengembang sendiri secara endoskopik dapat memulihkan asupan oral secara cepat. Ablasi laser intraluminal, terapi fotodinamik, dan koagulasi argon plasma dapat digunakan untuk mengendalikan perdarahan lokal atau reduksi tumor paliatif.
· Kemoradiasi: Kemoradiasi simultan dapat digunakan untuk penurunan stadium dan kontrol lokal pada kanker lambung stadium lanjut lokal yang tidak dapat direseksi. Kemoterapi adjuvan pascaoperasi merupakan terapi standar untuk stadium II–III. Kemoterapi paliatif bertujuan memperpanjang kelangsungan hidup dan meredakan gejala.
· Terapi target dan imunoterapi: Kanker lambung HER2-positif diberikan terapi target anti-HER2 sebagai tambahan kemoterapi untuk meningkatkan efikasi terapi. Inhibitor titik pemeriksaan imun digunakan pada pengobatan stadium lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan ekspresi PD-L1, instabilitas mikrosatelit tinggi (MSI-H), atau status defisiensi mismatch repair (dMMR), dapat menyebabkan regresi tumor yang berlangsung lama.
· Lainnya: Seluruh pasien harus menjalani pemeriksaan dan eradikasi Helicobacter pylori untuk menurunkan risiko kanker lambung metakronus. Dukungan nutrisi, pendampingan psikologis, serta pengobatan tradisional Tiongkok sebagai terapi adjuvan untuk memperbaiki nafsu makan dan kondisi umum.
Gastroskopi resolusi tinggi dikombinasikan dengan kromoendoskopi dan endoskopi pembesaran menjadi kunci dalam penemuan kanker lambung stadium dini. Biopsi histopatologi merupakan standar emas untuk penegakan diagnosis. Endosonografi dapat menilai secara akurat kedalaman invasi tumor serta kondisi kelenjar getah bening regional. Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan penanda molekuler seperti HER2, PD-L1 dan MSI. CT kontras seluruh abdomen serta rontgen toraks digunakan untuk mengevaluasi metastasis jarak jauh. Populasi berisiko tinggi disarankan menjalani skrining gastroskopi mendalam setiap 1–2 tahun.