Kanker hati primer terutama terdiri atas karsinoma hepatoseluler (berjumlah 75%–85%) dan kolangiokarsinoma intrahepatik, dan menjadi penyebab kematian ketiga akibat kanker di seluruh dunia. Di wilayah Asia, kanker hati sebagian besar berkembang secara bertahap dari hepatitis B kronis dan sirosis. Penyakit ini memiliki onset yang tidak bergejala, sekitar 70% pasien sudah kehilangan kesempatan untuk terapi kuratif saat terdiagnosis. Seiring dengan penerapan luas terapi antivirus, peningkatan kualitas metode skrining dini serta kemajuan terapi target dan imunoterapi, angka kelangsungan hidup penderita kanker hati meningkat secara signifikan. Penemuan dini kanker hati kecil dan penanganan terapi kuratif segera dapat menghasilkan angka kelangsungan hidup selama 5 tahun lebih dari 70 persen, yang menunjukkan pentingnya skrining rutin pada populasi berisiko tinggi.
· Infeksi kronis virus hepatitis B atau C (risiko meningkat hingga puluhan kali lipat)
· Penyakit hati alkoholik dan penyakit hati berlemak terkait metabolik
· Paparan aflatoksin (umum ditemukan pada serealia berjamur)
· Sirosis akibat berbagai penyebab
· Obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan kebiasaan merokok
· Penyakit metabolik herediter seperti hemokromatosis
Cedera hati kronis dan proses regenerasi menyebabkan akumulasi mutasi gen secara bertahap. Perubahan gen kunci seperti TP53 dan CTNNB1 menjadi peristiwa utama yang memicu transformasi maligna sel. Virus hepatitis B mampu mengintegrasikan DNA miliknya ke dalam genom sel inang. Protein inti virus hepatitis C mengganggu transduksi sinyal intraseluler. Asetaldehida sebagai metabolit alkohol dapat merusak DNA secara langsung, sedangkan aflatoksin menginduksi mutasi karakteristik gen TP53. Berbagai jalur patofisiologis ini bekerja secara sinergis dalam mendorong terjadinya karsinogenesis hati.
Kanker hati stadium dini umumnya asimtomatik atau hanya menunjukkan kelelahan ringan serta penurunan nafsu makan. Pada stadium menengah hingga lanjut, dapat timbul nyeri tumpul atau nyeri tegang persisten di kuadran kanan atas perut, massa keras yang teraba di daerah hati, distensi abdomen, ikterus, penurunan berat badan dan demam. Sebagian pasien diawali dengan komplikasi sirosis, antara lain asites, perdarahan akibat ruptur varises esofagus dan lambung, eritema palmaris serta nevus araneus. Mengingat hati memiliki daya kompensasi yang tinggi, pemeriksaan kesehatan berkala menjadi sangat penting.
Operasi: Reseksi bedah menjadi pilihan utama untuk kanker hati stadium dini. Pada pasien dengan cadangan fungsi hati yang baik dan tumor terlokalisasi, reseksi hati anatomis dapat mencapai tujuan terapi kuratif. Transplantasi hati pada pasien yang memenuhi kriteria Milan memberikan hasil pengobatan jangka panjang yang lebih baik, sekaligus mengatasi tumor dan penyakit hati penyerta.
Terapi minimal invasif: Teknik ablasi lokal seperti ablasi radiofrekuensi dan ablasi mikrogelombang, di bawah panduan pencitraan, mampu mendestruksi tumor secara presisi. Teknik ini menimbulkan trauma minimal dan masa pemulihan yang singkat, sehingga menjadi salah satu terapi kuratif untuk kanker hati kecil. Kemoterapi embolisasi intra-arteri transkateter (TACE) bekerja dengan menyumbat aliran darah tumor dan melepaskan obat secara lokal, merupakan terapi intervensi utama untuk kanker hati stadium menengah. Selain itu, krioablasi, elektroporasi ireversibel dan implantasi partikel radioaktif juga menyediakan berbagai pilihan terapi minimal invasif bagi pasien dengan kondisi berbeda.
Kemoradiasi: Radioterapi stereotaktik tubuh (SBRT) mampu mencapai tingkat kontrol lokal yang tinggi pada kanker hati terlokalisasi yang tidak dapat dioperasi maupun diablasi. Kemoterapi sistemik memiliki peran yang terbatas pada penanganan kanker hati, dan umumnya dikombinasikan dengan terapi intervensi.
Terapi target dan imunoterapi: Rezim kombinasi inhibitor kinase multitarget dan inhibitor titik pemeriksaan imun telah menjadi dasar terapi sistemik untuk kanker hati stadium lanjut. Sebagian pasien dapat bertahan hidup jangka panjang meskipun masih terdapat tumor. Obat terapi target yang ditujukan untuk kelainan gen tertentu juga sedang dalam penelitian dan penerapan klinis.
Lainnya: Terapi antivirus aktif, terapi pelindung hati, terapi penurun ikterus, dukungan nutrisi serta manajemen nyeri diterapkan sepanjang perawatan. Penanganan ini sangat berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pemeriksaan gabungan alfa-fetoprotein (AFP) serum dan PIVKA-II (protein prothrombin abnormal) merupakan penanda serologis dasar. CT kontras maupun MRI yang menunjukkan pola peningkatan kontras khas tumor “masuk cepat, keluar cepat” memiliki nilai diagnostik klinis yang tinggi. Ekografi dengan kontras dapat meningkatkan akurasi diagnostik lebih lanjut. Bagi kasus dengan gambaran pencitraan yang tidak khas, dapat dilakukan biopsi hati secara perkutan untuk memastikan diagnosis. Populasi berisiko tinggi disarankan menjalani skrining gabungan ekografi dan pemeriksaan serologis setiap 6 bulan guna mendeteksi lesi tumor dini.