Kanker paru-paru menempati urutan pertama dalam angka kejadian dan kematian akibat kanker di seluruh dunia. Secara umum dibagi menjadi Kanker Paru-Paru Non-Sel Kecil (85% ) dan Kanker Paru-Paru Sel Kecil. Merokok merupakan penyebab utama kanker paru-paru, namun angka kejadian adenokarsinoma paru pada non-perokok juga terus meningkat, terutama pada wanita Asia Timur, yang sering dikaitkan dengan mutasi gen pendorong seperti EGFR. Skrining dengan CT spiral dosis rendah dapat mendeteksi kanker paru-paru stadium dini, sehingga menurunkan angka kematian sekitar 20%. Di era kedokteran presisi, pengobatan terstratifikasi berdasarkan gen pendorong dan penanda imun, kanker paru stadium lanjut juga berpotensi dikelola sebagai penyakit kronis.
Merokok aktif dan pasif (sekitar 85% kasus kanker paru-paru disebabkan oleh tembakau)
Paparan radon di dalam ruangan (terutama pada tempat tinggal di ruang bawah tanah)
Paparan lingkungan kerja seperti asbes, arsen, kromium, dan hidrokarbon aromatik polisiklik (HAP)
Polusi udara luar ruangan (PM2,5) dan asap dapur
Riwayat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan fibrosis paru
Riwayat keluarga kanker paru-paru dan riwayat radioterapi dada
Asap tembakau mengandung lebih dari 60 jenis karsinogen yang diketahui, yang menyebabkan akumulasi kerusakan DNA pada sel epitel bronkus, dengan mutasi umum seperti TP53 dan KRAS. Peluruhan gas radon melepaskan partikel alfa yang secara langsung merusak DNA. Adenokarsinoma paru pada pasien tidak merokok biasanya didorong oleh mutasi atau penataan ulang gen pendorong seperti EGFR, ALK, dan ROS1, yang menyebabkan proliferasi sel terus-menerus. Kanker Paru_Paru Sel Kecil hampir selalu dikaitkan dengan merokok berat, dengan ciri khas inaktivasi alel ganda pada gen RB1 dan TP53.
Kanker paru-paru stadium dini biasanya tidak menimbulkan gejala, sebagian besar terdeteksi melalui pemeriksaan pencitraan saat skrining kesehatan rutin. Gejala umum meliputi batuk kering iritatif persisten atau perubahan sifat batuk kronis yang sudah ada, batuk darah atau adanya darah pada dahak, nyeri dada, sesak napas serta rasa tertekan di dada, dan suara serak. Tumor menyumbat saluran napas dapat menyebabkan pneumonia obstruktif sehingga menimbulkan demam. Sebagian pasien mengalami sindrom paraneoplastik, misalnya karsinoma sel skuamosa mensekresikan protein terkait hormon paratiroid (PTHrP) yang menyebabkan hiperkalsemia; pasien Kanker Paru Sel Kecil dapat mengalami sindrom Cushing atau hipertrofi osteoartikular. Metastasis ke tulang, otak, dan hati dapat menimbulkan gejala sesuai organ yang terdampak.
Operasi: Untuk Kanker Paru Non-Sel Kecil stadium dini, dilakukan lobektomi torakoskopik berbantuan video (VATS) disertai diseksi limfonodus sistematis; reseksi segmen paru anatomis dapat dipilih untuk pasien dengan fungsi paru yang kurang baik. Pascaoperasi, dilaksanakan kemoterapi adjuvan atau pengobatan target ditentukan berdasarkan stadium patologis.
Pengobatan Minimal Invasif: Untuk kanker paru stadium dini yang tidak dapat menjalani operasi, radioterapi stereotaktik tubuh (SBRT) dapat mencapai laju kontrol lokal yang serupa dengan operasi, merupakan pilihan terapi radikal noninvasif. Ablasi frekuensi radio berbantuan pencitraan, ablasi gelombang mikro, atau krioablasi dapat menghancurkan lesi kecil di paru secara langsung melalui tusukan perkutan. Ablasi gelombang mikro melalui bronkoskopi, terapi fotodinamik, dan pemasangan stent saluran napas dapat secara efektif meredakan obstruksi yang disebabkan oleh tumor di saluran napas sentral.
Kemoterapi dan Radioterapi: untuk kanker paru non-sel kecil stadium lanjut lokal, kemoradioterapi bersamaan diikuti terapi imunoterapi konsolidatif merupakan pola pengobatan standar. Pengobatan kanker paru-paru sel kecil didasarkan pada kemoterapi, untuk stadium terbatas ditambah radioterapi dada dan iradiasi profilaksis otak. Kemoterapi juga digunakan untuk kemoterapi neoadjuvan praoperasi dan adjuvan pascaoperasi.
Pengobatan Target dan Imunoterapi: Obat terapi target oral yang ditujukan terhadap gen penggerak seperti EGFR, ALK, ROS1, dan BRAF dapat secara signifikan memperpanjang progression-free survival (PFS). Bagi pasien tanpa mutasi gen penggerak, umumnya digunakan kombinasi inhibitor immune checkpoint dengan kemoterapi, atau terapi pemeliharaan imunoterapi tunggal.
Lain-lain: Radioterapi paliatif untuk menangani lesi metastasis di tulang dan otak guna mengurangi nyeri dan tekanan. Pengendalian nyeri yang terstandarisasi, dukungan nutrisi, dan rehabilitasi pernapasan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien stadium lanjut.
CT spiral dosis rendah merupakan metode skrining yang direkomendasikan untuk populasi berisiko tinggi. Spesimen jaringan diperoleh melalui bronskoskopi, biopsi paru perkutan, atau pemeriksaan sitologi cairan pleura. Pemeriksaan terhadap gen penggerak seperti EGFR, ALK, ROS1, BRAF, MET, RET, dan KRAS serta ekspresi PD-L1 wajib dilakukan untuk menentukan terapi target dan imunoterapi yang tepat. PET-CT digunakan untuk penentuan stadium secara akurat, sedangkan MRI otak digunakan untuk mengevaluasi metastasis serebral.