Kanker kolon adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa kolon, dan mayoritas besar merupakan adenokarsinoma. Terjadinya sebagian besar mengikuti model sekuensial "adenoma–karsinoma"; dari polip kecil berkembang menjadi karsinoma invasif biasanya memerlukan waktu 5–10 tahun, sehingga skrining kolonoskopi dan polipektomi dapat secara langsung menghambat proses karsinogenesis dan menurunkan angka insidens serta mortalitas secara signifikan. Belakangan ini, angka insidens kanker kolon onset dini pada populasi di bawah 50 tahun meningkat secara global, menandakan pentingnya intervensi gaya hidup dan skrining dini sesuai usia. Kemajuan dalam subtip molekuler dan terapi imun juga memberikan manfaat kelangsungan hidup yang lebih baik bagi pasien kanker kolorektal stadium lanjut.
· Asupan daging merah dan daging olahan yang berlebihan, pola makan tinggi lemak dan rendah serat makanan
· Kelebihan berat badan atau obesitas, kurang aktivitas fisik
· Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan
· Riwayat penyakit usus inflamasi (kolitis ulserativa, penyakit Crohn)
· Riwayat personal adenoma kolorektal atau kanker kolorektal
· Sindrom genetik seperti sindrom Lynch dan poliposis adenomatosa familial
· Diabetes melitus tipe 2
Sekitar 85% kanker kolon berkembang melalui jalur "adenoma–adenokarsinoma", disertai akumulasi bertahap mutasi gen APC, KRAS, TP53 dan instabilitas kromosom. Sekitar 15% sisanya terjadi melalui jalur instabilitas mikrosatelit, yang berasal dari silensiasi promoter gen MLH1 akibat metilasi atau mutasi germline pada gen mismatch repair (MMR) pada sindrom Lynch. Jalur polip serratum ditandai oleh mutasi BRAF dan metilasi pulau CpG. Karsinogenesis terkait penyakit usus inflamasi didorong oleh jalur "inflamasi–displasia–karsinoma", dengan risiko terutama tinggi pada pankolitis.
Gejala kanker kolon berhubungan dengan lokasi tumor. Kanker kolon kanan sering menampakkan diri sebagai anemia defisiensi besi akibat perdarahan okultus, nyeri tumpul perut kanan, atau massa yang dapat dipalpasi. Kanker kolon kiri, karena lumen usus lebih sempit, lebih mudah menimbulkan perubahan kebiasaan buang air besar, seperti diare dan konstipasi bergantian, feses menipis, hematokezia atau feses berdarah berlendir, serta gejala obstruksi usus. Stadium lanjut dapat menimbulkan penurunan berat badan, kelelahan, distensi abdomen, dan asites. Kanker rektum dapat disertai tenesmus dan perasaan tidak tuntas setelah buang air besar.
· Bedah: Kanker kolon dini atau adenoma berisiko tinggi dapat dieksisi secara lengkap melalui kolonoskopi. Kanker kolon yang dapat direseksi ditangani dengan reseksi radikal kanker kolon secara laparoskopik atau terbuka, mencakup segmen usus tempat tumor beserta kelenjar getah bening regional. Kemoradiasi neoadjuvan preoperatif sering digunakan untuk kanker rektum stadium lanjut lokal, sedangkan kanker kolon umumnya langsung dioperasi.
· Terapi minimal invasif: Mucosektomi endoskopik dan diseksi submukosa endoskopik (ESD) dapat mengangkat kanker kolon dini secara en-blok, menghindari bedah terbuka. Pasien obstruksi usus mekanik dapat dipasang stent logam self-expanding melalui endoskopi sebagai jembatan menuju bedah elektif. Metastasis oligometastatik seperti metastasis hepar dapat ditangani dengan ablasi radiofrekuensi, ablasi mikrogelombang, atau krioablasi untuk mencapai kontrol lokal kuratif; kemoterapi infus arteri hepatik dan embolisasi mikrosfer radioaktif merupakan tindakan intervensi untuk mengendalikan metastasis hepar difus.
· Kemoradiasi: Kemoterapi adjuvan pascaoperasi merupakan standar untuk kanker kolon stadium III dan stadium II berisiko tinggi. Radioterapi terutama digunakan sebagai neoadjuvan preoperatif dan adjuvan pascaoperasi untuk kanker rektum, serta dapat bersifat paliatif untuk kekambuhan lokal atau metastasis tulang.
· Terapi target dan imunoterapi: Terapi target anti-EGFR pada tipe liar gen RAS dan BRAF, serta obat antiangiogenesis telah digunakan secara luas pada kanker kolorektal metastatik. Pasien dengan instabilitas mikrosatelit tinggi (MSI-H)/defisiensi mismatch repair (dMMR) merupakan populasi yang sangat diuntungkan dari inhibitor checkpoint imun, dengan efikasi signifikan baik pada stadium dini maupun lanjut.
· Lainnya: Pemantauan antigen karsinoembrionik (CEA) serum pascaoperasi dan follow-up kolonoskopi berkala untuk deteksi dini kekambuhan. Keluarga berisiko tinggi dengan sindrom genetik sebaiknya menjalani konseling genetik dan pemeriksaan genetik, serta mengambil langkah skrining intensif atau intervensi profilaktik.
Kolonoskopi total dengan biopsi merupakan standar emas konfirmasi diagnosis, memungkinkan diagnosis dan polipektomi dilakukan secara bersamaan. Uji imunokimia feses (FIT) dan uji DNA feses multitarget sesuai untuk skrining awal populasi risiko umum. Jaringan patologi perlu diperiksa mutasi gen RAS, BRAF serta status instabilitas mikrosatelit/mismatch repair untuk memandu terapi presisi. CT kontras abdomen-pelvis menilai metastasis jauh, dan CEA digunakan untuk pemantauan respons terapi.