Limfoma adalah tumor ganas yang berasal dari sistem limfohematopoietik dan memiliki klasifikasi yang kompleks, terutama terdiri dari limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Sebagian besar sensitif terhadap kemoterapi, radioterapi, serta terapi imun-target, sehingga angka kesembuhan keseluruhan relatif tinggi.
· Infeksi virus seperti EB virus dan HTLV-1
· Penyakit autoimun
· Defisiensi imun (HIV atau setelah transplantasi organ)
· Paparan radiasi
· Riwayat keluarga genetik dan paparan bahan kimia tertentu
Infeksi virus tertentu dapat menyebabkan translokasi kromosom pada limfosit, seperti translokasi c-MYC, yang mengaktifkan onkogen dan menonaktifkan gen penekan tumor. Lingkungan imunosupresif mendorong proliferasi limfoid yang tidak terkendali, sedangkan hilangnya pengawasan imun mempercepat terjadinya tumor.
Pembesaran kelenjar getah bening tanpa nyeri adalah gejala paling umum, sering terjadi di leher, supraklavikula, ketiak, dan lipat paha. Gejala B sistemik meliputi demam tanpa sebab jelas, keringat malam, penurunan berat badan, dan gatal kulit. Pembesaran kelenjar mediastinum dapat menyebabkan sesak dada, sedangkan pembesaran kelenjar di rongga perut dapat menyebabkan kembung dan nyeri perut.
· Operasi: Biasanya bukan terapi utama; pengangkatan kelenjar getah bening untuk biopsi dilakukan guna memperoleh diagnosis patologi lengkap.
· Terapi minimal invasif: Biopsi jarum perkutan digunakan untuk kelenjar getah bening dalam yang sulit diangkat. Ablasi frekuensi radio atau gelombang mikro dengan panduan pencitraan dapat digunakan untuk sisa lesi soliter atau lesi ekstranodal oligoprogresif.
· Radiokemoterapi: Kemoterapi menjadi dasar terapi, dan radioterapi konformal dikombinasikan untuk penyakit stadium awal atau lesi lokal.
· Terapi target dan imunoterapi: Berbagai obat jalur target, antibody-drug conjugate, antibodi bispesifik, dan terapi sel CAR-T telah digunakan untuk berbagai subtipe, dengan tingkat remisi mendalam yang tinggi.
· Lainnya: Transplantasi sel punca hematopoietik autolog atau alogenik digunakan pada pasien risiko tinggi dan rekuren; dukungan antiinfeksi dan faktor pertumbuhan diberikan sepanjang terapi.
Biopsi eksisi kelenjar getah bening merupakan standar emas diagnosis; aspirasi jarum halus tidak cukup untuk penentuan subtipe. PET-CT adalah alat penting untuk penentuan stadium dan evaluasi respons. Aspirasi dan biopsi sumsum tulang menilai keterlibatan penyakit. Flow cytometry dan analisis genetika molekuler membantu klasifikasi presisi.