— Wawancara dengan Dr. Guo Donghua dari Kampus Zigong Rumah Sakit UNI-ASIA (Zigong Gaoxin Cancer Hospital)
Lebih dari dua dekade akumulasi klinis lintas disiplin, membangun strategi terapi tiga dimensi bagi pasien tumor melalui teknologi jalur ganda intervensi vaskular dan non-vaskular
Ada dokter yang mencatat kehidupan akademiknya melalui publikasi ilmiah, ada pula yang mengukur perjalanan profesinya melalui jumlah operasi. Namun, yang ia gunakan adalah rentang pengalaman: dari departemen gawat darurat penyakit dalam di rumah sakit militer ke ruang hemodialisis, dari penyakit jantung dan ginjal hingga ruang kateterisasi intervensi tumor. Peta kariernya melintasi berbagai disiplin klinis. Setiap perpindahan bukanlah lompatan yang acak, melainkan proses menghimpun kekuatan dari berbagai dimensi untuk terapi intervensi tumor. Dialah Dr. Guo Donghua dari Kampus Zigong Rumah Sakit UNI-ASIA (Zigong Gaoxin Cancer Hospital).
Dr. Guo Donghua lulus dari Beijing Military Medical College. Ia pernah bekerja di Rumah Sakit Unit 65535 Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, Rumah Sakit 203, Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Tiongkok Qiqihar, dan Rumah Sakit Jianhua Qiqihar. Ia juga pernah menjalani pelatihan lanjutan di Rumah Sakit 202 Tentara Pembebasan Rakyat, Fourth Military Medical University, dan The First Affiliated Hospital of Zhengzhou University. Dari kedokteran gawat darurat ke penyakit jantung dan ginjal, dari ruang hemodialisis ke onkologi, perjalanan panjang melintasi berbagai disiplin ini tampak berliku, tetapi justru membangun fondasi unik bagi terapi intervensi tumor yang ia tekuni kemudian: pembentukan akses vaskular, identifikasi kondisi kritis, serta evaluasi fungsi multi-organ, semuanya menjadi bobot keselamatan dalam pengobatan tumor yang ia lakukan.
Dalam peta teknologinya, Dr. Guo Donghua menempuh jalur ganda yang menyeimbangkan intervensi vaskular dan non-vaskular. Pada bidang intervensi vaskular, ia mahir melakukan TACE dan infus kemoterapi arteri berkelanjutan, serta mampu memilih titik akhir embolisasi dan skema infus berdasarkan karakteristik suplai darah tumor. Pada bidang intervensi non-vaskular, spektrum tindakannya mencakup implantasi biji radioaktif yodium-125, ablasi radiofrekuensi, ablasi mikrowave, krioablasi, pemasangan stent trakea/esofagus, percutaneous transhepatic cholangial drainage (PTCD), vertebroplasti dengan bone cement, biopsi tusuk, serta blokade/destruksi saraf tumor dan berbagai teknik lainnya. Ia menganut konsep terapi yang menekankan “serangan lokal yang presisi berjalan seiring dengan regulasi sistemik seluruh tubuh”. Ia terampil mengombinasikan kemoterapi, radioterapi, terapi target, dan imunoterapi untuk merancang jalur terapi komprehensif individual sesuai stadium tumor, status fungsi organ, dan tingkat toleransi pasien. Dalam penanganan komplikasi tumor serta penyelamatan kondisi kritis dan gawat darurat, dasar pengalaman awalnya di bidang gawat darurat dan penyakit dalam membuatnya menunjukkan penilaian klinis yang tenang dan stabil.
Pada April 2026, sebuah kasus MDT yang melibatkan Dr. Guo Donghua menarik perhatian. Seorang pasien dengan tumor raksasa multipel di dalam hati menjalani skema komprehensif individual yang dirancang oleh tim MDT, yaitu “terapi intervensi yang dikombinasikan dengan terapi target dan imunoterapi”. Setelah tujuh siklus terapi sistemik, tumor raksasa intrahepatik pasien tersebut berhasil dikendalikan secara efektif. Dr. Guo Donghua menyatakan bahwa intervensi minimal invasif bukan sekadar pilihan teknis, melainkan sebuah filosofi pengobatan: melalui jalur yang paling presisi dan biaya biologis yang paling terkendali, pasien memperoleh manfaat kelangsungan hidup yang paling bernilai.
Selama bertahun-tahun, Dr. Guo Donghua telah melakukan banyak operasi di ruang kateterisasi dan juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan edukasi kanker untuk masyarakat akar rumput. Ia pernah merangkum delapan poin pencegahan kanker dengan kata-kata sederhana: “asin, panas, diasap, berjamur, diasinkan, berlemak, rokok, alkohol”, sehingga pengetahuan pencegahan kanker dapat disampaikan dengan cara yang paling mudah dipahami masyarakat. Dari lingkungan militer ke rumah sakit daerah, dari penyakit dalam ke intervensi, dari meja operasi ke mimbar edukasi publik, ia membuktikan dengan caranya sendiri bahwa dokter yang baik bukan hanya harus mampu menuntun guidewire dengan tepat di dalam pembuluh darah, tetapi juga harus mampu masuk ke hati pasien.